Gak terasa udah masuk musim dingin kedua sayah di Korea. Ternyata musim dingin kali ini sama juga seperti musim dingin tahun lalu, hanya dingin dan dingin saja yang dominan terasa. Heran itu matahari walopun siang hari terang benderang tetep aja rasanya dingin. Musim dingin kali ini tidak seperti musim dingin tahun lalu, kalo dulu suhu di siang hari masih minus sekarang agak mendingan bisa plus 1-2 bahkan pertengahan Januari kemarin yang seharusnya sebagai puncaknya musim dingin malah suhu sempet hangat 2 – 7 derajat celcius. Biasa kena suhu di bawah nol dapat suhu segitu rasanya lumayan hangat. Musim dingin kali inipun salju jarang turun, sekalinya turun biasanya malah dibarengi dengan suhu yang naik, jadi ya salju langsung mencair. Baiklah, rupanya alam telah berubah walaupun yang terjadi sebenarnya terjadi adalah alam sedang menyeimbangkan dirinya dan kalopun dalam prosesnya nanti merugikan manusia maka itulah yang disebut manusia sebagai bencana/musibah.
Salju yang ketika dulu belum pernah merasakan ataupun melihatnya terlihat indah dan lembut ternyata bayangan tidak seindah aslinya, terasa dingin “menyakitkan” bila dipegang, juga tak selembut ungkapan orang yang katanya “Hati selembut salju” dan nyatanya tekstur salju gak lembut-lembut amat bahkan lebih mirip garam kasar. Jadi bila dikatakan hatimu selembut salju mungkin yang sebenarnya akan diungkapkan adalah sebaliknya. Sebagian besar orang Korea tidak suka salju tau lebih tepatnya musim dingin dengan suhu yang tidak bersahabatnya dan juga mahalnya harga sayuran…beh sayur lebih mahal dari harga daging. Harga satu bunga kol sama dengan harga satu ekor ayam…..sem tenan.
Owkeylah terakhir sayah mau cerita yang pertama, walaopun di musim dingin ternyata dari sisi berpakaian wanita di sini tetep ingin tampil sekseh, walo suhu dibawah nol sekalipun. Masih banyak dijumpai wanita dengan rok mini atau celana pendek meski pakai stocking, padahal sayah yang maki lapis tiga saja masih kedinginan. Cerita yang kedua, Minggu kemaren sayah beli tempe di world food rencananya mau dimasak pake lombok ijo tapi gak jadi sebab temen sayah malah udah goreng nugget plus orang kantor datang ke pabrik bawa ayam goreng. Esoknya sebab lupa gak ditaruh freezer tempenya busuk….yasud lah, dibuang. Baru tahu kalo untuk mengawetkan tempe harus didinginkan ternyata. Yang ketiga, cerita pertama dan kedua gak ada hubunganya sama sekali, kalo mencoba menghubung-hubungkan dua cerita itu ya terserah lah…..ra melu-melu.




